• Eva Noor

Eva Noor: Indonesia Kekurangan Bakat Cyber Security

Eva Noor: Indonesia Kekurangan Bakat Cyber Security

Fri, 02/02/2018 - 17:47
Posted in:
0 comments

PRIBUMIINDONESIA  – Indonesia kekurangan bakat cyber security dan itu menimbulkan masalah yang sangat nyata dalam industri strategis, pertahanan, kesatuan bangsa dan bisnis. Bayangkan bila terjadi perang cyber istilah beberapa “Tentara Cyber ” Indonesia yang dapat membela dan memperkuat pertahanan bangsa. Bayangkan jika ekonomi sudah berbasis digital, berapa tenaga ahli yang dibutuhkan dalam menangani masalah ini. Kekuatan SDM (Sumber Daya Manusia) sama pentingnya dengan kekuatan teknologi itu sendiri. Dalam dunia industri, baik perbankan, telko dan instansi pemerintahan, hampir seluruh negara didunia, telah memakai teknologi sebagai basis aktifitas kinerja kerjanya. Teknologi akan terus berkembang pesat tiap tahun kedepan tanpa batas.

Dalam berbagai macam masalah IT, unsur sumber daya manusia (SDM) juga memegang peranan utama, untuk itu sangat perlu dipikirkan dan dipersiapkan guna mencegah ketimpangan pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi. “Survey yang pernah saya baca, dunia butuh 15 juta tenaga expertis untuk cyber security. Indonesia kini butuh 1000 tenaga ahli (expert) cyber security diluar officer untuk berbagai kebutuhan instansi pemerintah, dunia industri, perbankan, telko dan lain sebagainya,” Ujar Eva Noor (23/12), CEO PT Xynexis International dalam acara tutup tahun PT. Xynexis dan PT Noosc Global di Hotel Shangrila Jakarta.

Untuk menyikapi dan menanggulangi hal itu, perlu dilakukan terobosan supaya tidak terjadi ketimpangan antara majunya teknologi Informatika dengan SDM atau tenaga pengawasan khusus dibidang IT , PT Xynexis melahirkan inovasi baru dengan gagasan program Born To Control bekerjasama dengan kementerian informasi dan telekomunikasi Indonesia (KOMINFO), dalam mengaplikasikan dan menjalankan program tersebut untuk masyarakat luas.

“Saat ini Xynexis baru menggandeng Kominfo guna pencarian bakat pada generasi muda yang tertarik dalam program Born to Control. Kedepan tidak menutup kemungkinan departemen semisal Pertahanan, BI, Keuangan, Kelautan serta berbagai instansi – instansi milik pemerintah lainnya termasuk pihak swasta seperti otomotif, telko, perbankan,asuransi juga dapat bermitra dalam program ini,”tambah Eva.

Born to control adalah program pencarian bakat cyber security di Indonesia, dengan tujuan menjaring minimal 2000 bakat SDM di dalam cyber security untuk tahun 2017, bertujuan menciptakan keseimbangan SDM yang ada, agar dapat mengatasi permasalahan kemajuan teknologi informatika saat ini. Kebutuhan punggawa pengawas sistem keamanan cyber seiring kemajuan jaman akan terus dirasakan penting keberadaannya.

“Program ini idealnya ada dari pendidikan menengah pertama atau menengah atas hingga bangku pendidikian tinggi yang memiliki fakultas IT atau khusus pendidikan IT, sebagai mata kuliah utama,” jelas Eva menanggapi sulitnya kini mencari operator atau ahli cyber security di Indonesia

Proses Pencarian Bakat
Keyakinan bahwa generasi muda bangsa banyak yang cerdas dalam mengelola sistem cyber security ini, proses dilakukan dengan 2 tahapan. Langkah awal Xynexis bersama Kominfo di 2017 melakukan awarnes di 5 kota dalam mensosialisasikan program yang di gagas. Dan dengan harapan terus berlanjut pada kota-kota lain ditahun berikutnya.
Awarnes yang dimaksud bertujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat luas, khususnya para generasi muda yang tertarik dengan cyber security program.

“Khusus program pencarian bakat di cyber security ini, tidaklah harus mengerti IT. Karena dengan memiliki ketertarikan saja sudah cukup yang kemudian akan dihimpun dan diberikan training khusus di bootcamp yang akan di selenggarakan 2 minggu pada tahapan kedua dalam menjaring para kandidat,” lanjut Eva menjelaskan.

Dari 2000 peserta. Diharapkan dapat terseleksi 100 orang terbaik dalam tiap daerah dan diberi pembinaan character building serta training khusus dengan standard internasional . Pembinaan bertujuan agar menciptakan tenaga yang baik bukan hanya keahlian IT-nya saja, namun juga menghasilkan sebuah mindset yang baik pula dari seseorang kandidat yang terpilih kelak.

“Pembinaan karakter ini di anggap perlu karena banyak orang cerdas dan memiliki keahlian bagus, namun banyak sekali dijumpai keahlian tersebut digunakan pada hal-hal yang kurang baik atau negatif. Khususnya didunia IT,” jelas Eva menjelaskan agar mindset SDM minimal dapat membela dirinya sekaligus juga jadi punggawa pembela bangsa dan negara dalam serangan cyber yang bisa saja menjadi sebuah ancaman serius kedepan.

Dalam Pencarian bakat ini, Target yang disasar untuk SDM Born To Control adalah semua warga negara Indonesia, berumur 16 tahun keatas dan yang berpendidikan menengah atas, hingga perguruan tinggi.

“Semua tentu akan ada test awal. Walau kandidat yang ikut hanya berbasic berpendidikan sekolah menengah atas dan tidak berlanjut keperguruan tinggi,namun berbakat dan punya ke inginan kuat, kenapa tidak mungkin itu yang bisa menjadi kandidat utama,” papar Eva.

Bagi mereka yang terpilih menjadi kandidat terbaik akan mendapat apresiasi dalam bentuk beasiswa pendidikan selain diberi saluran kesempatan bekerja pada perusahaan atau instansi yang membutuhkan.

Program Born To Control dirasakan sangat penting diselenggarakan agar tidak terjadi ketimpangan teknologi yang melesat jauh dengan SDM yang ada. Hal ini juga dirasakan penting agar pemerintah seyogyanya tidak lagi mengimpor atau mendatangkan tenaga ahli luar dalam penanganan masalah cyber security di negeri ini. Bila hal ini terjadi sudah barang tentu sangat merugikan dan membahayakan ketahanan dan pertahanan bangsa.
Dilema yang muncul adalah, disatu sisi Indonesia butuh pengembangan teknologi dalam industri bisnis dan tatakelola pemerintahan.

Disisi lain SDM yang dimiliki terbatas dan tidak menutup kemungkinan bila tenaga ahli luar yang di berdayakan, kedepan akan membawa masalah serius dan besar apalagi berbicara kerahasiaan data, dimana masalah yang muncul menjadi sebuah keamanan yang cukup sensitif khususnya pada masalah ketahanan dan pertahanan bangsa dalam berbagai sektor.

“Disinilah akhirnya kita berbicara bagaimana kita menjaga sebuah kedaulatan bangsa dari peran cyber security dalam menangkal kemungkinan cyber war yang bisa saja terjadi. Kelak kedepan sudah tepat kiranya kita punya generasi yang memiliki mindset bela dirimu dan bela bangsamu,” tegas Eva.

PT Xynexis Indonesia
Merupakan salah satu perusahaan IT yang bergerak dan fokus dalam bisnis Cyber security di indonesia, mulai dari konsultasi masalah membangun strategi keamanan data, audit hingga test keamanan data perusahaan. Dalam mensuport kinerja kerja dan inovasi PT Xynexis ada PT nosch Indonesia , anak perusahaan Xynexis yang khusus memanage services baik monitoring data atau meng outsource security data . 2 perusahaan berbasic IT ini digawangi oleh seorang wanita cantik dengan tinggi 170 cm, memiliki prinsip hidup harus ada tantangan bila ingin maju.

Mengawali membangun usaha sejak usia 19 tahun di bidang entertaintment yang akhirnya usaha awal yang dibangun itu dibeli salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Bakat bisnis yang dimiliki murni dari ke inginan Eva Noor karena insting itu tumbuh sendiri.

“Saya bukan keturunan pebisnis, orang tua hanya karyawan biasa dan guru , sementara insting bisnis tumbuh se-iring waktu perjalanan saat menapak bisnis yang saya lakoni. Sejalan dengan waktu dalam meraih berbagai mimpi dan harapan yang aku miliki, justru aku merasa berbisnis bak sebuah game atau permainan yang banyak memiliki tantangan,”ujar Eva Noor bercerita awal karir berbisnisnya.

Jatuh bangun di bisnis sudah biasa dirasakan Eva, justru hal itu yang membuatnya banyak belajar dari pengalaman yang tidak didapat dari bangku sekolah bisnis manapun . Eva adalah sosok wanita yang penuh inovasi dan impian dimana dalam sebuah impiannya dia membutuhkan orang yang bisa mengimbangi gagasan dan inovasinya menjadi sebuah kenyataan.

“Untuk merealisasikan inovasi dan impian yang aku punya, tentu dibutuhkan partner yang jenius dalam satu skillset, karena aku dasarnya generalis skill dengan ide –ide inovasi dimana nantinya orang-orang jenius lah yang merealisasikan impian itu,”tutur Eva.

Eva Noor yang sebelumnya berkongsi bersama partner asing mendirikan Bellua Asia Pacific, kini juga terjun ke arena politik dengan alasan memberi benefit untuk orang banyak. Harapannya dengan sebuah gagasan yang dimilikinya dapat membuat perubahan bagi kepentingan masyarakat luas. Segudang pengalaman dalam meniti karir yang dimiliki seorang Eva Noor antara lain ; sebagai pembicara dalam forum APEC Ministerial Meeting , di Brunei tahun 2000 sebagai utusan delegasi Indonesia, Forum APEC SMEs Working group workshop, Taipei 2001 sebagai SMEs Expertise, APEC SMEs Working group workshop, Japan 2001 sebagai SMEs Expertise dan menjadi pembicara salah satu pembicara utama dalam Simposium Perlindungan Infrastruktur Informasi Kritikal di Indonesia 27-28 Juli 2016 lalu di bali yang diadakan oleh Kementrian informasi dan teknologi bekerjasama dengan PT Xynexis International.(Beng Aryanto/prb)